cerita berangkat dari rumah menuju kantor


Kamar berukuran 4*3 meter terletak disudut lorong sebuah rumah kos yang berlantai 2 disana saya tinggal bersama teman seangkatan, sebutannya si bos :D. Udara pagi itu sangat dingin karena hujan yang cukup deras, kami berdua tidur beralaskan kasur yang langsung menempel ke lantai, aku dan si bos tidur dikasur masing-masing … ya iya lah masa berdua sekasur! πŸ™‚


Hari itu tidak seperti biasanya, si bos bangun lebih awal, tumben banget ya :), di setengah kesadaranku, aku merasa ada yang membangunkanku untuk segera sholat subuh … tapi aku tetap tidak bangun -bandel banget sih …. setelah aku sadar bahwa jam sudah menunjukkan 05.30 aku langsung ke kamar mandi untuk bergegas mandi & sholat shubuh.


Mulai deh, pikiranku melayang tidak karuan jika aku telah bermaksiat “salah satuanya (meninggalkan kewajiban sholat shubuh berjamaah)”, rasa malas tumbuh dan menjalar ke semua bagian tubuh ini… entah kenapa?


sedih rasanya ….
padahal Alloh swt telah mengkaruniakan kepada orang-orang yang beriman sebuah petunjuk untuk dapat menjaga keseimbangan diri, tapi banyak diantaranya tidak mampu untuk mengikuti karena dominansi hawa nafsunya lebih besar.


Ditengah kemalasan yang melanda diri karena awal aktifitas yang tidak mengenakkan hati berupa penyesalan diri, aku tetap bersemangat menyambut hari itu dengan memperbaharui niat… dengan mengucap basmallah sepenuh hati, tas rangsel segera ku gendong, ku cek terlebih dahulu sudah rapikah kamarku?’ kurasa sudah oke dan rapi’, maka ku tutup pintu kamarku dengan kunci. kulangkahkan kaki untuk berangkat ke kantor dengan bermodalkan penyesalan dan perbaharuan niat.


dari tulisan diatas ada bebrapa hikmah yang dapat kita ambil:

pertama: aktifitas secara keseluruhan dalam keseharian akan sangat dipengaruhi oleh aktifitas diawal (dipagi hari), sebuah penyesalan ataukah semangat yang menumbuhkan motivasi?

kedua: tak ada semangat diawal tidak mematikan harapan untuk dapat kembali bersemangat, asalkan dengan catatan ada kemauan untuk memiliki kemauan memperbaharui niat.

ketiga: jangan pernah menyepelekan siapapun, karena bagaimana bisa kita menyepelekan sesuatu yang telah di ciptakanNya? padahal kita (manusia) tak ada artinya di hadapanNya jika Dia tidak Maha Pemurah.

keempat: manusia diciptakan dengan hati yang bersih (kemauanberbuat kebaikan) dan nafsu yang buruk agar selalu ingat akan Khouf dan Roja’ dari Dzat yang telah menciptakannya.

πŸ™‚ sahabat … tunggu tulisanku berikutnya πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s