Mommy, I Miss U

Aku tak ada artinya, tanpa mu
Aku hadir di dunia karena pengorbananmu
Pengorbanan untuk ku mana yang engkau minta balasan atasnya?
Kini aku sudah dewasa, bersekolah dan bekerja
Apa yang engkau minta?
Sungguh tak ada!!!
Hanya kata-kata “nak tolong do’akan ibu ya”.
Merinding hatiku jika menghayati kalimat ‘itu’.

Duhai kawan, kita terkadang sangat naif dengan ibu kita sendiri. Aku merasakan perasaan seakan aku ini orang yang paling sengsara pada waktu itu, waktu dimana ketika aku baru mengerti sedikit saja tentang pengetahuan dan keislaman, namun aku begitu sombong dan terkadang meremehkan Ibu dengan segala keterbelakangannya. Mamah, maafkan ananda. Mommy, I Miss U.

Seorang anak yang baik alangkah bijaknya jika hendak mengajak keluarganya untuk bisa berbuat baik, seperti layaknya dirinya yang telah di tempa dalam tarbiyah, bisa menempatkan dirinya dengan baik dalam cara bersikap, berbicara, memberikan nasihat, mendengarkan, dan hal-hal lainnya yang menjadi sarana komunikasi dengan mereka atau dalam hal ini yang biasa paling dekat ya, ibu.

Dalam sebuah artikel di sebuah milist, sumbernya Artikel ini sudah dimuat di buletin DPC PKS Setiabudi, Lentera Setiabudi edisi ke-5, Jumadil Awal 142H

“Seorang ibu adalah madrasah. Yang jika benar-benar mempersiapkannya,
berarti telah mempersiapkan sebuah generasi yang benar-benar tangguh”
(Syauqi, seorang penyair).

Wanita, sesosok makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT bukan tanpa
suatu sebab. Ia hadir untuk menyemaikan benih-benih sakanah
(ketentraman). Ia dipersiapkan sebagai mitra laki-laki. Bukan sebagai
kebanggaan belaka atau dipamerkan hanya untuk melengkapi kesempurnaan
kaum pria.

Wanita, bukanlah makhluk lemah yang tidak mampu berbuat apapun. Tak
layak pula ia dimasukkan ke golongan kelas dua yang bisa diperlakukan
semena-mena. Lebih dari itu, ia adalah makhluk yang diciptakan Allah
dengan keistimewaan dan karakteristik tersendiri, yang dipandang
sejajar dengan kaum Adam oleh Allah. Maka simaklah janji-Nya, “Barang
siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.” (QS.An Nahl [16]:97)

Dan wanita, disebut pula sebagai tiang negara. Baik buruknya suatu
negara dicerminkan dari keadaan para wanitanya. Jika baik wanitanya,
maka baiklah negaranya. Betapa tidak, wanitalah yang melahirkan anak.
Belaian tangan wanita juga yang mengantarkan anak-anaknya itu menjadi
pemimpin yang adil dan bijaksana. Dan wanita pula yang berperan
penting membimbing anak-anaknya menjadi generasi rabbani, yaitu
generasi yang beriman, mencintai Allah, mengasihi Muslim, tegas
terhadap kafir, berjihad fi sabilillah, dan walinya adalah Allah dan
Rasul-Nya. Maka pantaslah jika wanita itu disebut sebagai pembentuk
peradaban.

Sejenak kita mengenang Al Khansa, ibu empat orang syahid. Ia adalah
seorang wanita tangguh yang senantiasa menularkan semangat jihad
kepada putra-putranya sehingga mereka menjadi pejuang yang pantang
menyerah dan rela mengorbankan jiwa raganya untuk kejayaan dan
kemenangan Islam.

Ada pula Ummu Abdi binti Wadud, ibunda Abdullah ibnu Mas’ud, salah
satu sahabat Rasulullah SAW. Di mata Abdullah, sang ibu bukan sekadar
orang yang menunggunya pulang ke rumah, tapi juga sebagai teman
diskusi sekaligus penasehat. Tak heran jika Abdullah kemudian tumbuh
menjadi pemuda cerdas dan berperan sebagai salah satu ujung tombak
Islam pada masanya.

Dan renungkanlah, di balik kebesaran seorang laki-laki selalu ada
wanita hebat yang mendampinginya. Wanita yang meneguhkan tekad,
memantapkan derap langkah, dan senantiasa mengobarkan semangat perjuangan.

Adalah Nur Nahar, istri Muhammad Natsir, seorang pejuang Islam dan
kemerdekaan Indonesia. Kehidupan yang serba terbatas dan sulit tidak
pernah membuatnya menjadi putus asa, tapi justru menjadikannya wanita
yang tegar. Dan ada Cut Nyak Dien, yang tanpa kenal lelah melanjutkan
perjuangan sang suami, Teuku Umar, untuk mengusir para penjajah dari
bumi Serambi Mekah. Lalu, betapa kita tak akan lupa dengan Ibunda
Khadijah ra, yang cinta Rasulullah padanya tak pernah lekang ditelan
zaman. Di saat sebagian besar orang masih mendustakan Muhammad SAW, ia
selalu menghibur dan mendukung sang suami tanpa membantah dan berdebat.

Duhai ukhti muslimah…

Demikianlah sosok-sosok wanita yang patut kita teladani. Wanita yang
menjadi perhiasan terindah suaminya, mutiara di mata anak-anaknya,
lentera bagi sekitarnya, dan inspirasi goresan pena sejarah. Maka, tak
berlebihan pula jika PKS mempersembahkan serangkaian programnya untuk
mengembangkan potensi berharga yang dikaruniakan kepada wanita. Karena dari dirimulah generasi unggul itu dilahirkan. Karena dari engkaulah
pendidikan itu bermula. Dan karena engkaulah sumber peradaban…

Artikel diatas sungguh telah menguraikan dengan lengkap keinginan seperti apa yang diharapkan dari para wanita. Aku juga berharap semoga aku bisa mencintai ibu dengan cinta yang tidak menjerumuskan, dan bukan pula kasih sayang dengan sok menggurui yang menjadikan hatinya kelam dan penuh dendam akantetapi cinta yang membuat ibu di sayangi oleh Alloh subhanahu wata’ala.

Aku rindu ibu …… aku sekarang tinggal sendiri di sini. Akan ku hadirkan wajah ibu di setiap sholatku dan akan ku do’akan kita bisa bertemu dengan takdir baik yang sudah ditetapkanNya antara aku dan dirimu.

Advertisements

One thought on “Mommy, I Miss U

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s